Mobile App Development Bagaimana Menjadi Seorang QA yang Berkualitas?

Bagaimana Menjadi Seorang QA yang Berkualitas?

Apakah kamu orang yang keras kepala, kreatif, serba ingin tahu, memiliki kemampuan komunikasi yang bagus, dan punya keinginan untuk bertahan?

Jika iya, maka SELAMAT, kamu memiliki kualitas yang bagus untuk menjadi seorang QA yang baik. “Masa???”

Sebagian besar orang berpikir bahwa menjadi seorang QA hanya membutuhkan kemampuan teknis. Tentu saja itu benaaar sekali, tapi itu belum semuanya loh. Kemampuan teknis penting untuk melakukan dasar-dasar dalam pengujian software dan pekerjaan lainnya yang berhubungan dengan software testing.

Tapi bagaimanapun, dalam pekerjaan apapun, soft skill sama pentingnya, karena itu berhubungan dengan bagaimana kita melakukan pendekatan terhadap pekerjaan itu sendiri, terhadap orang-orang di sekitar lingkungan kerja, terhadap masalah-masalah yang akan kita hadapi selama pekerjaan berlangsung, dan lain-lain.

Menjadi seorang QA membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan tentang software testing. Ketika bug ditemukan oleh klien, tidak ada yang bertanya “Siapa yang ngoding ini?”, tetapi “Siapa yang mengetes ini?” dan “Kenapa bisa lolos QA?”Nah loh, pasti hal itu sering dialami oleh kamu yang pernah menjadi seorang QA.

Okee, karena itulah, saya membuat artikel ini untuk membahas beberapa poin penting yang harus dimiliki oleh seorang QA menurut beberapa pendapat para ahli di lapangan. Ini dia poin pentingnya.

1. Komunikasi yang Baik

Komunikasi adalah poin penting dan yang paling utama yang harus dimiliki oleh seorang QA. Bisa dikatakan bahwa “komunikasi adalah kunci kesuksesan”. Kenapa?? Karena, seorang QA akan berurusan dengan begitu banyak tim proyek yang berbeda dan mungkin beberapa dari mereka berlokasi jauh/bekerja secara remote.

Komunikasi yang baik dibutuhkan untuk melaporkan bug secara tepat. Artinya, bug yang kita laporkan harus dipahami oleh tim sehingga akan memudahkan proses fixing bug tersebut. Selain itu, komunikasi yang baik juga bisa menghilangkan ambiguitas dan kesalahpahaman saat melaporkan bug atau menjelaskan mengenai obstacle yang kita hadapi saat menjalankan aplikasi.

Misalnya, ketika kita menemukan bug yang krusial, sangat penting untuk menjelaskannya dengan cara yang sopan sehingga developer tidak merasa seperti kita menyalahkannya. Jadi, nggak usah ngegas, yaa, temen-temen QA…. :D

Selain itu, ikutlah sprint planning atau daily standup dengan tim karena itu adalah momen kita untuk menggali informasi lebih detail mengenai requirement aplikasi, spesifikasi teknis, serta memahami target user dari aplikasi yang akan dikembangkan.

2. Berpikir Kreatif

“Professional tester need to think (far) beyond what is expected of the software and the users.” -ISTQB Exam Certification

3. Keingintahuan Intelektual

Menurut software tester Alejandro Maderna, keingintahuan secara intelektual tidak ada hubungannya dengan menjadi seorang intelektual. Ini adalah salah satu sifat penting untuk menjadi seorang QA yang berkualitas karena itu akan memotivasi QA untuk lebih mencari tahu tentang aplikasi yang sedang diujinya.

Intinya, ini adalah tentang mengajukan pertanyaan dan tidak memiliki jawaban.

“Seorang tester harus mengembangkan keingintahuan intelektualnya untuk melihat apa yang belum dilihat orang lain, untuk berpikir apa yang tidak dipikirkan orang lain dan melakukan apa yang tidak berani dilakukan orang lain.” –Maderna.

4. Fleksibel

Dalam konteks ini, fleksibilitas mengacu pada “menggunakan teknik pengujian yang berbeda sesuai dengan situasi”. Tidak ada cara yang benar dan salah untuk menguji suatu aplikasi. Pengetesan aplikasi mobile akan berbeda dengan pengetesan aplikasi web based. Begitu juga pengetesan aplikasi e-commerce akan berbeda dengan pengetesan aplikasi field force.

Contoh lain, jika ada change log aplikasi berdasarkan tes terakhir kali, jika waktunya terbatas, maka QA tidak perlu melakukan full cycle functional testing. Ini karena hal tersebut akan memakan waktu. Lebih baik melakukan automated regression testing untuk memastikan bahwa modifikasi yang dilakukan tidak hanya berjalan sesuai dengan test case, tetapi juga tidak menyebabkan masalah pada fungsi-fungsi software sebelumnya.

Intinya, seorang QA harus lebih fleksibel untuk berpindah dari satu teknik pengujian dengan teknik pengujian lainnya berdasarkan kebutuhan proyek tersebut.

5. Keras Kepala dan Gigih

Jika ada yang menyebut kita “keras kepala”, umumnya itu bukan sebuah pujian. Tapi dalam top tester, itu adalah hal yang baik.

“The stubborn tester is persistent and will not give up until the error is reproduced and reported so that it can then be rectified by the developers.” –posting-an blog ReQtest.

“Great testers never give up. They are patient enough to find as many bugs as they can. They explore the software, constantly try to make new improvements and take all the testing challenges and complexities positively and patiently.” posting-an blog Sertifikasi Ujian ISTQB.

Nah, itu dia beberapa poin yang bisa saya sampaikan dalam artikel ini. Bersambung dulu, yaa, karena masih banyak poin soft skill yang harus dimiliki oleh seorang QA. Kalau kamu mau menambahkan list-nya, boleh banget, dong, di-share…. Karena, ilmu itu akan lebih bermanfaat jika kita bagikan. See you on the next article….

Sumber: https://searchsoftwarequality.techtarget.com/opinion/Five-qualities-of-a-good-software-tester-hint-its-not-tech-skills

Maya Maulani adalah kepala divisi Quality Assurance di GITS Indonesia. Sebagai seorang QA, Maya memiliki pribadi natural yang baik dalam berkomunikasi serta pemerhati detail.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles

Latest article

Implementasi REST API di iOS Development menggunakan Alamofire dan SwiftyJSON

iOS Development – Tentang REST API Bagi seorang developer, mungkin sudah tidak asing lagi...

GITS Expert Talks: Guide to Building a Learning Organization

In 1995, Peter Senge coined the term of a Learning Organization. He defines it as a company that facilitates learning of its...

GITS Webinar: How to Build UI UX Portfolio that Stand Out

Apa saja yang harus disiapkan UI/UX designer dalam membuat portfolio? Setelah kamu membuat UI design, lalu bagaimana cara mendokumentasikan...

12 Pelajaran dalam GITS 12 Tahun

GITS genap berumur 12 tahun pada 13 September ini. Ini juga tandanya saya sudah 2 tahun lebih 1...

Customer Loyalty Program yang Cocok untuk Masa Pandemi COVID-19

Customer loyalty program atau program loyalitas kepada pelanggan adalah tentang bagaimana menghargai pelanggan. Kemudian, pada akhirnya, pelanggan yang...