Di tengah persaingan talenta yang semakin ketat, keputusan karyawan untuk bertahan atau meninggalkan perusahaan tidak lagi sekadar soal loyalitas. Perubahan ekspektasi kerja, tuntutan produktivitas yang meningkat, serta kebutuhan akan keadilan dan transparansi membuat karyawan semakin selektif dalam menilai tempat mereka bekerja. Bagi perusahaan, memahami pola di balik keputusan resign menjadi krusial, bukan hanya untuk menekan angka turnover, tetapi juga untuk membangun sistem pengelolaan SDM yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Table of Contents
Toggle3 Alasan Karyawan Resign dari Perusahaan
Berdasarkan survei Jakpat pada 2024, ini dia 3 alasan paling banyak mendorong karyawan untuk meninggalkan perusahaan:
1. Gaji Dinilai Tidak Seimbang dengan Beban Kerja
Kompensasi memang bukan satu-satunya alasan karyawan bertahan, namun ketimpangan antara tanggung jawab pekerjaan dan imbalan finansial menjadi pemicu paling dominan. Terutama bagi kelompok low hingga middle income, selisih kecil antara penghasilan dan kebutuhan rutin, seperti biaya kesehatan, utilitas, dan kebutuhan keluarga sangat terasa dampaknya. Ketika kondisi ini berlangsung lama tanpa evaluasi, karyawan cenderung mencari perusahaan lain yang menawarkan gaji yang lebih tinggi.
2. Adanya Tawaran Karier yang Lebih Menarik
Pasar tenaga kerja saat ini semakin terbuka dan kompetitif. Profesional dengan performa baik kerap mendapat pendekatan langsung dari recruiter atau headhunter. Tawaran tersebut tidak hanya berbentuk kenaikan gaji, tetapi juga mencakup bonus berbasis kinerja, jaminan kesehatan keluarga, fleksibilitas kerja, hingga peluang pengembangan karier yang lebih jelas. Jika perusahaan tidak secara berkala membandingkan paket kompensasinya dengan standar industri, risiko kehilangan talenta unggul akan semakin besar.
3. Beban Kerja Berlebihan dan Kurangnya Dukungan
Tuntutan pekerjaan yang terus meningkat tanpa diimbangi sumber daya yang memadai, baik dari sisi jumlah tim maupun dukungan teknologi dapat menyebabkan kelelahan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berdampak pada turunnya produktivitas, meningkatnya risiko burnout, hingga gangguan kesehatan. Ketika manajemen tidak memiliki visibilitas yang jelas terhadap distribusi beban kerja, karyawan sering kali memilih resign demi menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental.
Dampak Turnover Karyawan yang Tinggi bagi Perusahaan
Mengapa angka resign sulit ditekan? Masalah utamanya seringkali berakar pada sistem pengelolaan SDM yang masih manual dan tidak transparan. Tingginya karyawan resign tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga membawa konsekuensi serius bagi organisasi, antara lain:
- Meningkatkan beban kerja tim HR, mulai dari proses rekrutmen ulang, onboarding, hingga pelatihan karyawan baru.
- Menghambat kelangsungan proyek, karena adanya knowledge gap dan penyesuaian ulang tim.
- Meningkatkan biaya operasional, termasuk biaya iklan lowongan, rekrutmen, dan waktu adaptasi karyawan baru.
- Menurunkan moral dan produktivitas tim, terutama jika beban kerja karyawan yang keluar harus ditanggung sementara oleh tim yang tersisa
- Mengganggu stabilitas budaya kerja, terutama jika karyawan yang resign adalah key talent atau role strategis.
Permasalahan Pengelolaan SDM: Sistem Administrasi Manual
Banyak perusahaan masih mengandalkan sistem administrasi SDM yang konvensional dan terfragmentasi. tanpa adanya Performance Analytics, perusahaan seringkali tidak menyadari beban kerja nyata karyawan hingga akhirnya memicu keputusan karyawan untuk resign.
Kondisi ini menimbulkan berbagai tantangan, di antaranya:
1. Kurangnya Insight Personal Karyawan
Data kehadiran, performa, dan beban kerja karyawan sering tersebar di berbagai dokumen terpisah, sehingga sulit dianalisis secara menyeluruh. Ketergantungan pada sistem manual juga membuat upaya memetakan employee retention menjadi tidak optimal. Manajer kehilangan visibilitas terhadap kondisi tim. Siapa yang bekerja secara efektif, siapa yang berisiko mengalami burnout, atau siapa yang justru membutuhkan tantangan baru untuk berkembang.
Akibatnya, alasan karyawan resign baru diketahui ketika surat pengunduran diri sudah diajukan. Pada titik ini, perusahaan terlambat memahami kondisi individu karyawan, termasuk penurunan performa atau beban kerja yang berlebihan.
2. Subjektivitas dalam Penilaian Kinerja
Tanpa indikator yang terukur, penilaian kinerja sering bergantung pada persepsi atasan. Hal ini berdampak pada:
- Ketidakjelasan dasar kenaikan gaji atau pemberian bonus
- Munculnya bias penilaian
- Karyawan merasa kurang diapresiasi dan kehilangan motivasi
3. Minimnya Visibilitas Jalur Karier
Ketika data performa tidak terdokumentasi dengan baik, perusahaan sulit menyusun perencanaan karier yang adil dan transparan. Akibatnya, karyawan yang berpotensi tinggi justru mencari peluang pengembangan di luar perusahaan.
Cara Mencegah Karyawan Resign dengan Pengelolaan SDM Berbasis AI Performance Analytics
Untuk menjawab berbagai permasalahan tersebut, perusahaan perlu beralih ke pendekatan data-driven HR management dengan AI Performance Analytics. Teknologi ini dapat membantu perusahaan membaca kondisi karyawan secara lebih objektif melalui data kerja harian, seperti timesheet dan task log, yang kemudian diolah menjadi insight kinerja yang dapat langsung ditindaklanjuti oleh manajemen. Dari sinilah proses evaluasi kinerja tidak lagi bersifat asumtif, melainkan berbasis data nyata yang konsisten.
Pendekatan AI performance analytics ini diwujudkan melalui beberapa kapabilitas utama berikut:
1. Automated, Data-Driven Performance Review
AI secara otomatis menganalisis aktivitas kerja dan mengkonversinya menjadi laporan performa berbasis data. Dengan mekanisme ini, perusahaan dapat meninggalkan pencatatan manual sekaligus meminimalkan bias subjektif dalam proses evaluasi karyawan.
2. Holistic Analysis dalam Empat Dimensi Kinerja
Alih-alih menilai karyawan hanya dari hasil akhir, sistem ini memberikan gambaran performa yang lebih komprehensif melalui empat dimensi utama: Achievement, Quality, Adaptability, dan Punctuality. Pendekatan ini memungkinkan manajemen memahami kekuatan dan area pengembangan karyawan secara lebih menyeluruh.
3. Identifikasi Inefisiensi dan Peluang Pengembangan
Melalui analisis pola kerja, AI mampu mengidentifikasi bottleneck proses serta tugas berulang yang tidak efektif. Insight ini membantu perusahaan melakukan optimasi workflow sekaligus merancang program coaching yang lebih tepat sasaran.
4. Dashboard Interaktif untuk Pengambilan Keputusan
Seluruh insight kinerja disajikan dalam dashboard visual yang intuitif, sehingga manajer dapat memantau performa tim hingga level individu secara real-time. Dengan visibilitas ini, keputusan terkait promosi, rotasi, maupun pengembangan karyawan dapat dilakukan secara lebih cepat dan akurat.
AI Performance Analytics Untuk Employee Retention
AI performance analytics membantu perusahaan membangun strategi retensi karyawan yang lebih efektif melalui penilaian kinerja yang adil, transparan, dan berbasis data. Setiap kontribusi karyawan dianalisis secara objektif, sehingga keputusan terkait evaluasi, reward, dan promosi tidak lagi bergantung pada penilaian subjektif.
Melalui analisis pola kerja, perusahaan juga dapat menjaga distribusi beban kerja yang lebih seimbang serta mendeteksi potensi burnout lebih dini. Selain itu, data kinerja yang terstruktur memberikan kejelasan jalur pengembangan karier, membuat karyawan merasa diapresiasi dan dipercaya. Ketika karyawan melihat adanya keadilan dan peluang berkembang, loyalitas terhadap perusahaan pun meningkat secara berkelanjutan.
AI Performance Analytics untuk Lingkungan Kerja yang Inklusif & Adil
Dengan AI Performance Analytics, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan adil melalui penilaian kinerja yang transparan, berbasis data, dan bebas bias. Pendekatan ini tidak hanya menekan angka turnover, tetapi juga membangun budaya kerja yang sehat dan berkelanjutan.
GITS.ID sebagai Partner Transformasi HR Berbasis AI
GITS.ID menghadirkan solusi AI Performance Analytics yang dirancang untuk membantu perusahaan memahami performa karyawan secara objektif dan strategis. Dengan pendekatan berbasis data, GITS.ID membantu organisasi dalam mengoptimalkan penilaian kinerja, mengurangi risiko resign akibat bias dan ketidakjelasan karir, meningkatkan produktivitas dan retensi talenta.





