Jodoh memang di tangan Tuhan dan cukup banyak pasangan yang menemukan teman hidupnya di tempat kerja.

Dalam bahasa Jawa ada ungkapan “witing tresna jalaran saka kulina” yang artinya “cinta bertumbuh karena terbiasa bersama-sama”. Karena, pasangan dapat terjalin ketika mereka sering menghabiskan waktu bersama, melakukan pekerjaan masing-masing.

Sebelum di GITS, saya dan istri pernah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Awal pertemuan kami saat itu hanya seperti pertemuan pada umumnya rekan kerja. Karena tidak lama setelah itu, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Dan akhirnya kami dipertemukan kembali di GITS Indonesia Jakarta.

Pada awal perjumpaan kembali, kami membicarakan banyak hal. Seperti, bagaimana kabar, juga pengalaman kerja di mana saja sebelum mulai kerja di GITS. Seperti bernostalgia, akhirnya kami melanjutkan perbincangan kami melalui chatting. Entah membicarakan hal pekerjaan hingga menanyakan apakah weekend ini ada acara.

Seiring berjalannya waktu, intensitas pertemuan kami semakin sering. Dari sekadar menjemput dia dari kosan hingga ke kantor begitu pula sebaliknya. Saat itu, saya menganggap kedekatan yang terjadi antara teman dan rekan kerja. Tapi saya merasa, hubungan pertemanan ini bisa berlanjut sampai ke jenjang yang lebih serius lagi.

Ya, menikah.

Sebelum menikah saya bertunangan dulu dengan istri saya. Mendengar kami bertunangan, tentunya rekan kerja kami di GITS beragam bentuk responsnya. Dari yang mendoakan sampai terheran-heran karena ketika di kantor, kami hanya sepasang rekan kerja yang kelakuannya seperti Tom & Jerry alias suka bertengkar.


Setelah menikah, bukan hal mudah juga bagi kami bekerja sebagai pasangan suami istri sekaligus rekan kerja dalam waktu yang bersamaan. Kami harus sama-sama saling menjaga emosi demi profesionalitas kami dalam pekerjaan. Awalnya sulit memang, tapi setelah dijalani, ternyata tidak sulit juga. Asal komunikasi dan emosi saling terjaga.

Apabila ada urusan di rumah jangan dibawa ke lingkungan pekerjaan. Untuk urusan pekerjaan, saya rasa ini adalah hal opsional karena kami juga sering membahas pekerjaan ketika kami di dalam perjalanan menuju rumah. Di rumah pun kami masih suka mendiskusikan tentang apa yang sudah kami kerjakan; ibaratnya seperti evaluasi hari itu.


Walaupun tidak semua perusahaan mempunyai kebijakan yang sama, tetapi yang sering terjadi pada pasangan karyawan sekantor yang memutuskan menikah adalah salah satunya memilih mengundurkan diri dengan segala pertimbangan yang sudah dipikirkan dan didiskusikan secara matang. Hal ini tentu bisa menjadi masalah bagi perusahan-perusahaan yang mempunyai karyawan potensial, tetapi memutuskan untuk mengundurkan diri karena menikah dengan rekan sekerja.

Tapi setelah kami berdiskusi dengan HRD dan atasan, syukurnya, kami masih bisa diberikan kesempatan untuk bekerja di satu divisi dan tempat yang sama.


Bagaimanapun juga, ada untung dan rugi yang terjadi ketika pasangan bekerja dalam satu kantor.

Keuntungan itu di antaranya:

  1. Kemudahan dalam berangkat kerja
    Karena bekerja di kantor yang sama, kami bisa berangkat bersama ke tempat kerja.
  2. Pemahaman yang lebih baik
    Bekerja bersama-sama di perusahaan yang sama, memberikan kami kesempatan untuk bisa memahami karakter dan kepribadian masing-masing. Hal ini juga membantu kami untuk menjaga keseimbangan antara hal pribadi dan profesionalitas menjadi lebih baik.

Ada pula kerugian yang didapat apabila bekerja dengan pasangan dalam satu kantor, di antaranya:

  1. Berkurangnya ruang pribadi
    Bertemu di rumah, lalu di tempat kerja dan kembali lagi ke rumah, membuat ruang pribadi menjadi berkurang.
  2. Konflik di tempat kerja
    Ketika terjadi permasalahan di kantor, bisa saja terus terbawa sampai rumah. Pasangan yang beradu argumen di kantor bisa akan bertengkar di rumah, bahkan di perjalanan.
  3. Kesulitan untuk mendapatkan cuti bersama
    Bekerja di perusahaan yang sama bisa jadi akan sulit mendapatkan jadwal cuti yang sama. Pastinya perusahaan tidak akan mengizinkan dua karyawannya mendapat libur saat yang sama secara terus menerus.

Demikian cerita singkat saya serta beberapa keuntungan dan kerugian menjadi seorang suami dari istri sekaligus rekan kerja di perusahaan yang sama.