Business Sama-sama Melakukan Application Development, tapi Ada Apa dengan Perbedaan Product vs Project...

Sama-sama Melakukan Application Development, tapi Ada Apa dengan Perbedaan Product vs Project Company

Apa yang salah dengan perusahaan yang melayani project?

“Mas, nggak capek proyekan terus?”

Beberapa orang sering menanyakan itu kepada saya. Bahkan beberapa karyawan GITS Indonesia juga sering bertanya hal demikian, waktu itu. Biasanya akan dilanjutkan pertanyaan, “Kapan nih kita, GITS, punya produk sendiri?”

Cerita Terbentuknya GITS Indonesia, IT Consultant Digital Agency

Kilas balik 11 tahun lalu, GITS Indonesia sendiri terbentuk dari 5 orang mahasiswa yang beberapa kali “proyekan bareng”. Untuk cari tambahan dan supaya tidak memberatkan orang tua. Kebetulan sekampus, sejurusan, dan sekos-kosan.

Termotivasi tentang kewirausahaan oleh Pak Hari Lubis (Alm) — dosen jurusan Teknik Industri, dimana kami sempat mengikuti kuliah beliau. Kami lalu memutuskan membuat perusahaan bersama.

Menurut almarhum, wirausaha punya kesempatan lebih untuk memberi dan menyediakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Klien dan proyek kami terus bertambah dan beragam. Awalnya kebanyakan proyek datang dari alumni ITB. Kemudian meluas ke beberapa industri melalui referensi.

Sampai sini bisa dibilang DNA kami adalah project company. Perusahaan Jasa alias IT Consultant Digital Agency.

Beberapa kali GITS mencoba mencari dan mendefinisikan kembali jati dirinya. Kami telah melewati puluhan proyek bersama. Mulai dari proyek perangkat multimedia interaktif, ERP sederhana, PPOB system, Web Commerce, dan Digital Marketing kita libas. Tapi apa sebenarnya sih GITS ini? Kita mau apa dengan perusahaan ini?

GITS Indonesia Kemudian Sempat Lebih Fokus pada Mobile Application Development

Tahun 2011, melalui diskusi yang sangat alot, kami mendefinisikan GITS is all about mobile. Saat itu kita sudah punya beberapa aplikasi mobile. Revenue paling besar tetap dari custom project dari klien. Namun, kami juga memulai membangun app dan meraup sedikit revenue dari produk sendiri. Mobile applicaiton tersebut seperti Toresto, Jadwal Sholat, KoranDroid, dan lain-lain.

DNA-nya juga mulai mengalami mutasi untuk membuat produk aplikasi alias lebih ke product application development.

Ada Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Product Development

Tapi mungkin memang penyakit newbie. Atau, karena latar belakang kami di GITS adalah engineer (yang lebih suka di depan laptop mengoptimasi kodingannya sendiri). Sehingga, saat membuat produk, kami terlalu fokus pada teknis pengembangannya.

Padahal, pengembangan produk dan fitur itu baru satu aspek saja. Ada aspek lain yang juga perlu diperhitungkan dan dikembangkan. Misalnya, siapa potensial user dan customer-nya, problem apa yang coba dipecahkan, promotion channel-nya. Bahkan, hingga hak cipta, brand, kompetitor, dan terutama keuangan.

Ketika produk dibangun tanpa memperhatikan aspek penggunanya, sekeren apapun desain aplikasinya sekuat apa pun perencanaan fitur dan teknikal nya, produk tersebut tidak akan dipakai oleh penggunanya.

Sebuah produk harus bisa bernilai bagi penggunanya, menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah dan memudahkan pekerjaannya. Itu pun yang terjadi pada beberapa produk kami. Kami terlalu fokus dengan teknis pengembangan fiturnya dan lupa bahwa seharusnya kami berinteraksi lebih banyak dengan target pengguna kami.

Yang menarik adalah ketika kami membuat app “simpel” untuk keseharian kami sendiri, produk-produk tersebut dapat bertahan lebih lama (bahkan hingga sekarang). Because we solve our own real problem. Real problem that also happens to other people.

Saat itu sempat ada investor menawarkan dana fantastis ke salah satu produk kami dengan syarat kami harus berhenti melayani permintaan proyek dan menutup GITS. To fully become a product company. Kesempatan ini, walau sedikit menyesal (karena dananya bisa digunakan buat menikah lebih awal mestinya mwahaha), tidak kami ambil.

Tapi ada baiknya juga kami tidak serta-merta migrasi menjadi Product Company. Beberapa kompetitor kami di produk tersebut juga perlahan tapi pasti magud.

Menjadi Project Company adalah yang Kemudian GITS Indonesia Pilih

Kami memilih bootstrapping sambil mengerjakan proyek-proyek dari klien. Tidak fokus memang. Tapi selain memberikan runway yang lebih panjang, GITS juga belajar banyak dari klien dengan produknya.

Kami menyaksikan dari dekat bagaimana klien kami seperti Gogobli.com, Tiket.com, atau Blanja.com, secara iteratif memprioritaskan dan membangun produk yang sesuai kebutuhan penggunanya. Dark side-nya, kami juga menemukan pola pada beberapa klien kami yang lain menghasilkan produk yang salah.

Sama seperti kisah produknya GITS di atas, dimana tanpa dukungan data (interview pengguna, analitik, dll) yang cukup, klien terlalu fokus merencanakan detail dan menghabiskan waktu pada fitur yang sebenarnya tidak dibutuhkan pengguna. Istilahnya YAGNI “You Ain’t Gonna Need It”.

Menjadi Perusahaan yang Visioner

Pengalaman ini dikuatkan oleh Jim Collins dalam bukunya Built To Last yang saya baca beberapa waktu kemarin. Collins membahas mitos-mitos yang membuat sebuah perusahaan menjadi visioner.

Perusahaan visioner dalam buku ini, adalah perusahaan yang telah melewati beberapa linimasa, mengalami beberapa regenerasi pemimpin, melalui evolusi produk dan pelanggan, tetapi tetap menjadi bisnis yang menguntungkan seperti 3M, IBM, serta P&G.

Salah satu mitosnya adalah bahwa perusahaan visioner selalu memiliki ide yang hebat dan dimulai dengan perencanaan strategis yang mumpuni. Faktanya, hanya sedikit dari perusahaan sukses yang diriset Collins dimulai dari ide dan perencanaan yang brilian. Kebanyakan yang berhasil menurutnya adalah yang terus bereksperimen, trial and error, dan oportunis terhadap kesempatan. Beberapa keberhasilan yang ditemukan bahkan terjadi karena “kecelakaan” yang tidak disengaja.

Perusahaan visioner adalah perusahaan yang lagi-lagi secara iteratif membuat dirinya menjadi mesin inovasi yang terus menerus menghasilkan produk yang berguna bagi customernya.

Lalu kalau sekarang punya ilmunya, kenapa tidak buat produk sendiri?

Bersambung dari buku yang sama, ada kalimat terus terngiang di kepala saya:

The company itself is the ultimate creation.”

“We had to shift from seeing the company as a vehicle for the products, to seeing the products as a vehicle for the company.”

Produk terbesar kami adalah GITS-nya sendiri. Perusahaannya sendiri. Orang-orang di dalamnya serta sistem yang menggerakkannya. Selama perusahaan bisa menyajikan sesuatu yang berguna bagi customer-nya, maka disitulah value-nya.

Produk GITS saat ini adalah pengalaman kami, what works, what doesn’t work dari ratusan proyek sebelumnya yang secara perlahan dikumpulkan, didokumentasikan, dieksperimentasikan, dan dipetakan polanya dengan tujuan membantu klien-klien kami selanjutnya.

Kalau McKinsey punya McKinsey Way, Spotify dengan Spotify Model-nya, GITS punya G-System (beruntungnya GITS juga jadi Google Certified Agency, beberapa metode product development juga diadopsi dari GV dan Google Design Sprint. Serba G haha).

GITS Indonesia Kini Mengerjakan Proyek dari Klien dan Tetap Punya Produk Sendiri

Bukan berarti GITS berhenti membangun produk digital sendiri. Kami menemukan beberapa peluang baru ketika fokus melayani klien di spesifik area tertentu. Seperti Mobile untuk Smart Office, O2O Commerce dan, Healthcare. Kami juga menemukan peluang lain saat kami bisa membuat tools yang dapat mempercepat proses pengembangan kami.

Peluang-peluang ini kemudian bisa menjadi bibit untuk produk selanjutnya. Tentunya bibit produk tersebut perlu melalui proses validasi terhadap calon pengguna untuk memastikan bahwa produk yang kami hasilkan benar-benar solving real user problem. Salah satunya adalah Muslimlife mobile application.

Motivasi membuat perusahaan atau produk yang salah adalah kalau hanya untuk bangga-banggaan punya produk karya anak bangsa. Atau, karena tergiur dengan cerita investasi produk sehingga bisa punya penghasilan belasan-puluhan juta rupiah, karena ingin bisa pensiun dini, atau karena di produk tidak terlalu capek melayani komplain klien (customer).

Lagi-lagi, sebuah perusahaan atau produk yang baik adalah yang men-deliver value kepada customer-nya: menyelesaikan masalahnya, meringankan pekerjaannya, atau meningkatkan hasil bisnisnya.

So, are we a product or project company?

It doesn’t matter.

We are GITS Indonesia, a company that has been live more than 11 years, continuously trying to help people to achieve more on their business with mobile application and more.

Kami telah terlibat dalam berbagai proyek, di antaranya adalah bersama Danone; Toyota; serta Jasa Raharja. Lebih lanjutnya dapat diakses di sini.


Ray Rizaldy adalah co-founder GITS Indonesia.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles

Latest article

Menciptakan Organisasi Pembelajaran/Learning Organization, juga bagi Digital Agency Jakarta

Dalam sebuah perusahaan, juga digital agency Jakarta misalnya, kedinamisan adalah hal yang mutlak. Setiap orang yang ada di dalamnya memiliki perbedaan latar...

Software Developer Indonesia, Ini Cara Pakai Open XML di .NET Core

Bagi software developer Indonesia, saat ini, banyak aplikasi yang menerapkan office tools untuk membantu pengerjaan dokumen, presentasi, maupun spreadsheet. Office tools ini...

Cara Membuat UI/UX Design Portfolio yang Menarik Perhatian Recruiter

Bidang UI/UX design terus berkembangan pesat dan memiliki banyak peluang. Dengan memiliki design portfolio yang kuat dan menarik, kamu punya banyak kesempatan...

GITS Expert Talks: Commercial Budgeting in Uncertainty: Key to Prepare for 2021

Preparing the year 2021 budget will be challenging for most companies given the unprecedented situation of pandemic. We have faced 2020 with...

Implementasi REST API di iOS Development menggunakan Alamofire dan SwiftyJSON

iOS Development – Tentang REST API Bagi seorang developer, mungkin sudah tidak asing lagi...