Website Ecommerce: 6 Rahasia Ampuh Dominasi Pasar Fashion

Industri fashion itu tidak pernah mati. Seiring waktu, fashion tetap jadi kebutuhan pokok dan selalu berkembang dengan tren yang terus berubah. Tapi, persaingan di industri ini juga sangat ketat. Dengan adanya e-commerce dan marketplace, persaingan antar brand fashion semakin sengit. Kalau brand Anda masih bergantung pada toko fisik atau cuma mengandalkan marketplace pihak ketiga, Anda bisa ketinggalan dari kompetitor. 

Memahami Perbedaan Marketplace dan Ecommerce

Seringkali, orang menganggap marketplace dan e-commerce itu sama, padahal beda. Kamu perlu paham perbedaan antara keduanya sebelum memutuskan strategi investasi digital. Marketplace itu seperti mal digital besar (contohnya Shopee atau Tokopedia) di mana banyak penjual berkumpul. Sedangkan website ecommerce adalah butik mandiri milik brand kamu sendiri. Di sini, Anda adalah pemilik gedung, yang mengatur dekorasi dan semua hal lainnya.

Marketplace VS Website Ecommerce : Mana Yang Lebih Menguntungkan?

“Kenapa harus repot bikin website e-commerce sendiri kalau ada marketplace yang sudah lebih ramai?” 

Memang berjualan di marketplace produk Anda lebih mudah untuk menjangkau pasar lebih luas. Akan tetapi, untuk keberlanjutan bisnis akan sulit jika hanya mengandalkan marketplace. Berikut beberapa hambatan menjual brand fashion Anda di marketplace:

  1. Komisi Tinggi dan Biaya Tak Terduga: Marketplace bisa memotong komisi 20% hingga 40% per transaksi, ditambah biaya pengiriman dan promosi. Ini sangat menekan margin keuntungan, terutama untuk label fashion yang sedang berkembang.
  2. Identitas Brand yang Tergerus: Di marketplace, produk Anda bersandingan dengan ribuan kompetitor. Tidak ada ruang untuk narasi atau personalisasi. Pelanggan lebih ingat nama marketplace-nya daripada nama brand Anda.
  3. Hubungan Pelanggan yang Terbatas: Anda tidak pernah benar-benar mengenal siapa pembeli brand Anda karena data mereka dimiliki oleh platform marketplace. Tanpa data, kamu tidak bisa menjalankan program loyalitas atau kampanye retargeting yang efektif.
  4. Tekanan Perang Harga: Algoritma marketplace memaksa brand untuk terus memberikan diskon demi visibilitas, yang pada akhirnya merusak nilai jangka panjang brand tersebut.

Itulah alasan mengapa brand besar seperti Uniqlo, Zara, dan lain sebagainya tetap memprioritaskan website ecommerce resmi mereka. 

Strategi Jitu Membangun Website Ecommerce Brand Fashion Anti Gagal

Membangun sebuah ecommerce memang cukup kompleks. Mulai dari stock management, maintenance website ecommerce, sampai dapat mendatangkan trafik. Maka dari itu, Anda perlu strategi yang benar-benar matang. Berikut adalah strategi untuk membangun website ecommerce untuk brand fashion milik Anda sendiri : 

  1. Riset Mendalam: Pahami perilaku audiens kamu dan bagaimana peta persaingan di pasar fashion saat ini.
  2. Strategi Pesan (Messaging): Jangan hanya jualan baju, jualah cerita. Tentukan bagaimana cara brand kamu berbicara kepada pelanggan.
  3. Identitas Visual yang Kuat: Desain UI/UX website harus mencerminkan karakter produk. Jika produkmu elegan, jangan buat website yang terlihat berantakan dengan banyak pop-up diskon murah.
  4. Konsistensi di Semua Lini: Pastikan pengalaman di website sama nyamannya dengan saat mereka melihat iklan kamu di media sosial.
  5. Membangun Ekosistem Komunitas: Ajak pelanggan untuk terlibat, berikan mereka alasan untuk kembali selain sekadar belanja.
  6. Evolusi Berkelanjutan: Pantau data secara berkala dan terus lakukan pembaruan pada fitur website kamu agar tetap relevan dengan tren.

Meningkatkan Customer Experience dengan Website Ecommerce AI

Kelemahan terbesar belanja fashion secara online adalah tidaknya adanya interaksi atau sentuhan manusia. Tidak seperti saat customer berbelanja di toko offline, ada petugas  yang membantu merekomendasikan baju untuk wisuda atau membantu mencocokkan warna kerudung dengan baju. Namun, Bagaimana jika pengalaman inil Anda hadirkan di website ecommerce brand fashion Anda untuk meningkatkan customer experience.

Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menjadi asisten stylist pribadi bagi pelanggan. Hal tersebut dapat terealisasikan secara nyata. Melalui teknologi AI berikut:

1. Conversational AI Chatbot

Teknologi ini dapat memahami dan memberi respon yang tepat dari berbagai pertanyaan melalui Natural Language Processing dan machine learningnya. Jika diaplikasikan di website ecommerce, pelanggan bisa bertanya apapun seperti saat berbelanja di toko offline. Misalmya, “Ada kemeja yang cocok untuk acara semi formal yang bahannya sejuk di kulit?”

AI akan mengolah informasi tersebut, kemudian menyarankan produk yang sesuai,lalu menawarkan beberapa rekomendasi warna yang sesuai. Tidak hanya itu, seringkali pelanggan yang akan membeli pakaian tidak mengetahui ukuran tubuhnya sendiri. Hal ini bisa diselesaikan dengan foto pengguna yang diunggah di fitur chatbot. Kemudian AI akan memperkirakan ukuran yang sesuai untuk pengguna.

2. AI Virtual Try On

Selain kurang interaksi manusia, hambatan terbesar orang belanja fashion item online adalah takut tidak cocok. Dengan AI virtual try on, pelanggan bisa langsung mencoba pakaian tersebut secara virtual.

Caranya, pelanggan cukup unggah foto dan pakaian tersebut akan “terpasang” di tubuh mereka secara digital. Kemudian, dengan fitur color virtual try on, mereka juga dapat mengekspor berbagai pilihan warna produk. 

GITS.ID Solusi Digital untuk Brand Fashion Anda

Membangun sebuah website ecommerce yang terintegrasi dengan teknologi AI memang cukup kompleks. Jika ingin brand fashion Anda memiliki platform e-commerce yang unggul dalam customer experience, GITS.ID hadir sebagai solusi. 

CONTACT US

Do you have a new project?

Come tell us what you need! Fill out this form and our solution team will response to your email by maximum of 1×24 workday.

Indonesia

Head Office

Summarecon Bandung, Jl. Magna Timur No.106, Bandung, 40294

Whatsapp (chat only)

0813-99-529-333

North America

Branch Office

166 Geary Str STE 1500 #1368, San Francisco, CA 94108, United States