Waterfall Development dalam Project Management

Waterfall Development dalam Project Management

Metode pengembangan waterfall menjadi salah satu cara pengembangan perangkat lunak dengan menggunakan metode linier. Hingga saat ini Waterfall Development menjadi yang paling banyak dipilih di dalam sebuah project management.

Menurut para project manager, metode ini merupakan sebuah pendekatan klasik dalam lingkaran kehidupan serta di dalam proses pengembangan aplikasi. Biasanya project manager akan membagi pekerjaan menjadi sejumlah fase yang dimana satu sama lainnya berada di bagian hilir.

Apa Itu Metode Waterfall Development

Merupakan metode tertua yang ada di dalam software development life cycle dengan proses penerapan yang singkat dan juga sederhana. Maka para developer akan semakin mudah dalam mengerjakan suatu proyek management.

Walaupun terbilang tua tapi metode yang diterapkan di dalamnya sangat sederhana. Sifatnya pun linier dan setelah satu fasenya selesai maka bisa lanjut ke fase lainnya. Setiap fase di dalam metode ini juga memiliki turunan yang menunjukkan bahwa mereka saling memiliki pengaruh dan hubungan.

Jika digambarkan maka rangkaian fase tersebut juga akan tampak seperti air terjun yang membuat fasenya dikenal dengan metode waterfall. Awalnya metode ini diperkenalkan oleh Herbert D. Bennington di tahun 1956 an.

Kemudian metodenya kembali dipresentasikan di tahun 1983. Dua tahun kemudian metode ini terus berkembang dengan sejumlah fase yang digunakan di dalamnya.

Tahapan yang Ada di Metode Waterfall

Fase dan tahapan yang terus dikembangkan oleh Bennington, dijelaskan dengan beberapa hal seperti berikut:

1. Requirements

Tahap paling awal yang ada di metode waterfall ini adalah Requirements yang merupakan tahap penghimpunan dari semua data yang dibutuhkan dan telah dianalisis.

Ketika Anda ingin menciptakan sebuah aplikasi maka dibutuhkan dokumen yang isinya adalah informasi yang berkaitan dengan software system yang akan dikembangkan. Contoh dokumen itu adalah product requirement document atau yang disingkat dengan PRD.

Dokumen ini berisi checklist apa saja yang ada di dalam proses pembuatan aplikasi, mulai dari pain points di setiap usernya sampai bagaimana tingkat fungsional dari aplikasi itu sendiri.

2. Desain

Tahap kedua dalam Waterfall Development adalah desain. Setelah menghimpun semua dokumen persyaratan serta menganalisa dokumen persyaratan dan sistemnya maka tahap desain menjadi tahap yang kedua.

Dalam fase ini ada sejumlah hal penting yang harus dipersiapkan terlebih dulu, yaitu bahasa pemrograman yang akan dipakai, databasenya, hingga teknis lainnya yang lebih detail.

3. Coding

Tahap ketiga yang ada di metode waterfall adalah coding, yang adalah pembuatan dari coding software tersebut. Cara pembuatannya dilakukan dengan menggunakan data yang ada di dalam desain dan persyaratannya.

4. Implementasi

Tahap berikutnya yang akan memungkinkan Anda dalam melakukan uji coba software yang telah diinput codenya adalah implementasi. Kemudian yang bertugas di dalam tahap implementasi tersebut adalah beta tester, atau bisa juga pengujian yang lainnya.

Mereka juga harus bisa mencari tahu apakah perangkat lunak yang telah dibuat oleh tim developer telah selesai, dengan spesifikasi dari kliennya ataukah belum. Apakah ada juga kekurangan lainnya yang bisa saja terlewat dan sebagainya.

Secara umum, di tahap implementasi ini waktu pengerjaannya akan sangat lama karena seluruh penguji pun harus memastikan seluruh masalah yang bisa terjadi dan dapat diselesaikan dengan baik.

Tapi jika tidak bisa diselesaikan maka hal itu akan mempengaruhi tahapan lainnya bahkan bisa membuatnya menjadi berantakan.

5. Deployment

Apabila sebelumnya implementasi uji coba ini dilakukan oleh tester dari pihak internal maka tahap lainnya yang disebut deployment ini tidak sama.

Tahap ini sama dengan perilisan ketika aplikasi atau produk sudah dinyatakan fungsional dan dapat dipakai secara langsung oleh si pengguna.

6. Maintenance

Tahap akhir yang juga tidak kalah pentingnya adalah maintenance atau tahap pemeliharaan. Jika sudah berhasil dirilis maka yang harus dilakukan adalah melakukan pembenaran atau penyempurnaan pada softwarenya.

Apabila Anda pernah memiliki aplikasi dengan banyak versi yang baru maka hal itu disebabkan oleh adanya tahap maintenance yang harus selalu dilakukan.

Intinya, tahap pemeliharaan ini harus dilakukan supaya produk tetap sempurna dan para pengguna bisa menggunakannya dengan baik.

Waterfall Development dalam Project Management

Keunggulan dari Metode Waterfall

Sama halnya dengan metode yang lainnya, metode waterfall juga memiliki keunggulan dan kelebihannya sendiri yaitu sebagai berikut:

1. Workflow yang Jelas

Dengan menggunakan metode tersebut maka Anda akan memiliki rangkaian alur kerja dengan sistem yang lebih jelas dan terukur. Setiap tim memiliki tanggung jawab dan juga tugasnya masing-masing dan sesuai dengan bidang keahliannya sendiri.

Mereka pun bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

2. Bisa Menghemat Biaya

Kelebihan lainnya dari metode waterfall ini adalah mampu menghemat biaya, jika dilihat dari segi resourcenya dan biaya yang dikeluarkan perusahaan. Maka klien tak akan mencampuri urusan tim pengembang dan pengeluaran pun akan lebih sedikit.

Hal ini berbeda dengan metode lainnya seperti agile, dengan klien yang mampu memberikan sarannya serta umpan balik pada tim pengembang yang berhubungan dengan penambahan atau perubahan di sejumlah fiturnya.

Maka pihak perusahaan juga dapat mengeluarkan biaya dengan nilai yang lebih besar dari metode waterfall.

3. Memiliki Hasil Dokumentasi yang Baik

Metode ini merupakan jenis metode yang juga bisa dilakukan dengan cara metodis. Setiap informasi yang ada di dalamnya akan dicatat dengan baik dan tersalurkan di setiap anggota timnya dengan cepat dan akurat.

Dengan adanya dokumen tersebut maka semua pekerjaan pada tim akan dikerjakan dengan mudah serta bisa mengikuti setiap arahan dari dokumen itu sendiri.

4. Digunakan untuk Pengembangan Software yang Skalanya Besar

Metode waterfall juga diklaim sangat cocok dalam menjalankan pembuatan aplikasi yang skalanya besar serta yang melibatkan banyak SDM dengan prosedur kerjanya yang lebih kompleks.

Tapi metode ini juga dapat dipakai untuk proyek berskala kecil atau menengah. Namun harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan/kondisi proyek yang diambilnya.

Web dan App Development dengan Waterfall Bersama GITS.ID

Sebuah project management yang dilakukan dengan menggunakan metode waterfall sebaiknya dilakukan dengan sebaik mungkin.

Tak terkecuali dalam memilih perusahaan jasa IT Consulting terbaik seperti GITS.ID, yang nantinya akan membantu proyek di perusahaan Anda dengan hasil yang optimal.

Lengkapnya layanan yang dimiliki oleh GITS dan salah satunya web dan app development ini, bisa dimanfaatkan oleh perusahaan Anda ketika menangani sebuah proyek tertentu. Kemudian dengan menggunakan metode waterfall sebagai metode paling mudah dan sederhana.

GITS.ID selalu menjadi solusi tepat dalam membantu mengembangkan sebuah perusahaan menjadi lebih maju. Khususnya dalam bidang pemakaian teknologi informasi yang terkini. Para programmer yang ada di GITS pun terus berinovasi dan selalu mengikuti perkembangan teknologi.

Sebagai outsourcing developer, GITS.ID akan meningkatkan nilai marketing bagi perusahaan dan membantu perusahaan untuk mencapai target atau tujuan mereka.

Anda dapat melihat tentang project yang telah kami kerjakan sebelumnya dengan mengunjungi website kami atau membaca case study dari aplikasi JRku yang telah kami luncurkan sebagai hasil kerjasama dengan Jasa Raharja

Outsource Developer untuk Proyek Perusahaan Anda Sekarang

CONTACT US

Do you have a new project?

Come tell us what you need! Fill out this form and our solution team will response to your email by maximum of 1×24 workday.

Indonesia

Head Office

Summarecon Bandung, Jl. Magna Timur No.106, Bandung, 40296

Whatsapp (chat only)

0811-1309-991

North America

Branch Office

166 Geary Str STE 1500 #1368, San Francisco, CA 94108, United States