Kita telah membahas tentang metodologi agile dalam mobile application development ataupun development lainnya, tentang masalah yang bisa jadi ditemui pada proses ini, serta solusi atau cara menyelesaikannya. Di sini, kita akan membahas bagaimana seorang UX designer perlu berperan dalam metodologi agile.

 

Dengan agile, proses desain dan development dilakukan “kecil-kecil” dan berulang. Ini memberikan banyak manfaat. Untuk jadi UX designer dalam proyek agile, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya:

  • Komunikasi yang bagus pada application development dengan metodologi agile
  • Mulai mendesain sebelum application development dimulai
  • Tetap lakukan user research selama menjalankan agile di application development
  • Bekerja bersama tim mobile developer dan lainnya dalam application development
  • Mengetahui beberapa hal teknis sebagai UX designer untuk menunjang development

 

Komunikasi yang Bagus pada Application Development dengan Metodologi Agile

Jaga komunikasi yang baik dengan seluruh anggota tim, seperti product owner, developer, klien, hingga end-user, agar semua yang diperlukan dan detail pengerjaan menjadi jelas. Komunikasi ini juga perlu agar tidak terjadi salah persepsi antara anggota tim.

 

Mulai Mendesain Sebelum Application Development Dimulai

Proses desain bisa dimulai 1-2 sprint sebelum proses development dimulai. Hal ini agar semua aspek ada bayangan yang jelas sejak awal. Lebih bagusnya, melakukan tahap Design Thinking atau Design Co-Creation sebelum mobile application development ataupun development lainnya. Dengan proses ini, masalah yang perlu dipecahkan dengan aplikasi akan lebih jelas dan tersiapkan baik serta tepat guna. GITS Indonesia juga membuka jasa Design Co-Creation untuk pra-development.

 

Tetap Lakukan User Research Selama Menjalankan Agile di Application Development

Meskipun timeline pengerjaan ketika agile terasa dipadatkan, user research penting untuk dilakukan. Idealnya, setiap dua minggu sekali. Hal ini agar aplikasi tidak berkembang ke arah yang kurang tepat guna bagi user atau bisa jadi sulit dipakai target user. Namun, hal-hal tersebut sebetulnya juga dapat diminimalisir dengan melakukan tahap Design Co-Creation pada pra-development.

 

Bekerja bersama Tim Mobile Developer dan Lainnya dalam Application Development

“Bersama” di sini artinya mengomunikasikan ide desain dengan tim (product owner, developer, dan lainnya). UX designer perlu melakukan ini karena bisa saja ada perbedaan pandangan ataupun ide lain yang bisa diterapkan.

 

Mengetahui beberapa hal teknis sebagai UX designer untuk menunjang development

Bagi UI designer maupun UX designer, mengetahui komponen-komponen yang biasa dipakai developer dalam kodingan mereka, bisa membantu desainer dalam memahami batasan dan desain yang bisa diwujudkan.

 

Itu dia hal-hal yang perlu diperhatikan bagi UX designer ketika bekerja dalam proyek yang dijalankan dengan metode agile.

Salah satu yang juga bisa sangat membantu agar desain serta solusi aplikasi terarah dan tepat guna adalah dengan melakukan Design Co-Creation (DCC). DCC melibatkan tak hanya para pen-develop proyek, tapi juga klien dan end-user sehingga hasilnya akan lebih efektif.

GITS Indonesia dapat membantu perusahaan dalam hal ini. Kami telah terlibat dalam berbagai proyek, salah satunya bersama Toyota dan lebih lanjutnya dapat diakses di sini.


Bonni adalah UX designer dan Jacqueline adalah bagian dari tim Marketing GITS Indonesia.