Meskipun sepertinya pandemi ini menyurutkan daya beli (terutama untuk produk-produk sekunder dan tersier), ternyata ada insight menarik yang terjadi pada bisnis PT Honda Prospect Motor (HPM), seperti dalam laporan yang ditulis oleh sindonews.com.

Menurut laporan tersebut, pada akhir tahun lalu, transaksi pembelian mobil Honda melalui online hanya 5%. Jumlah transaksi online ini kini melonjak jadi 20% dari total penjualan Honda di Indonesia.

mobile application, website design, webdesign, development android, digital agency jakarta, ecommerce indonesia, application development, mobile app design, transformasi digital, app design, developer mobile app, digital agency indonesia, b2b ecommerce, digital transformation

Gambar dari Situs Resmi Honda

 

Di artikel ini, kita akan membahas:

  • Faktor COVID-19 dan kebiasaan baru

  • Tren e-commerce Indonesia

  • Kebutuhan untuk punya e-commerce resmi

 

Faktor COVID-19 dan Kebiasaan Baru

Ada beberapa hal yang membuat fenomena ini terjadi. Menurut Yusak Billy, Direktur Business Innovation and Marketing & Sales HPM, faktor pertama adalah karena adanya pembatasan sosial yang terjadi selama pandemi COVID-19. Pembatasan sosial ini diterapkan oleh pemerintah, juga didukung kesadaran konsumen untuk menghindari kegiatan di luar rumah.

Faktor lain yang berpengaruh adalah perubahan kebiasaan berbelanja online karena dukungan konektivitas internet yang makin terjangkau dan merata. Platform-platform e-commerce juga makin praktis dan aman sehingga mendukung kepercayaan konsumen untuk bertransaksi dalam jumlah besar.

Brand Honda juga berpengaruh dalam hal ini. Konsumen yang membeli online bukan hanya konsumen lama yang repeat order. Konsumen baru juga membeli karena percaya dengan brand Honda.

 

Baca juga: Efek Domino COVID-19 dan Bagaimana E-Commerce dan Industri Retail-FMCG Saling Menguatkan

 

Tren E-Commerce Indonesia

Yusak percaya bahwa tren pembelian mobil secara online ini masih akan meningkat setelah masuk era normal yang baru nanti.

Menyambut tren tersebut, HPM membuat beberapa program penawaran untuk memudahkan konsumen. Konsumen yang membeli salah satu produk melalui situs resmi dealer dan official store di marketplace lain, bisa mendapat benefit tambahan. Seperti gratis cicilan 3 bulan hingga gratis service berkala sampai 50 ribu km atau 4 tahun.

Keberadaan marketplace juga turut menjaga akses ke konsumen meskipun dalam keterbatasan karena COVID-19 ini. Promo eksklusif yang dijalankan di marketplace seperti Tokopedia dan Blibli juga salah satu daya tarik bagi konsumen.

 

Kebutuhan untuk Punya E-Commerce Resmi

Jika marketplace dapat memberikan brand akses langsung ke jutaan pembeli, apakah brand perlu membuat situs atau aplikasi e-commerce-nya sendiri?

Penting untuk tahu bahwa pembeli yang bertransaksi melalui marketplace belum menjadi konsumen Anda sepenuhnya. Marketplace seperti Tokopedia adalah pengendali pasar dan memiliki data konsumen Anda. Anda tidak memiliki kontrol atas data tersebut secara penuh dibandingkan jika Anda memiliki situs atau aplikasi e-commerce sendiri. Akibatnya, Anda tidak bisa mempelajari data dan kebiasaan konsumen Anda. Anda juga tidak bisa mengirimkan marketing campaign secara langsung dan membuat pengalaman yang terpersonalisasi sesuai konsumen yang bersangkutan.

Marketplace besar biasanya memiliki aturan-aturan bagaimana brand bisa berjualan di platform mereka. Di dalam marketplace juga konsumen akan dengan mudah menemukan brand kompetitor. Terutama untuk produk-produk yang lebih kecil, bisa juga ditemukan barang palsu yang merusak nama brand. Jika brand kompetitor mau membayar lebih ke marketplace, hasil pencarian akan menempatkan produk kompetitor lebih di atas.

 

Baca juga: Kenapa Perlu Outsourcing ke Digital Agency Konsultan IT untuk Mobile App Development

 

Dalam sebuah sesi webinar bisnis, CEO The Body Shop Indonesia, Aryo Widiwardhono, mengatakan bagi brand yang ingin memulai online memang langkah pertama adalah manfaatkan saja fasilitas marketplace yang ada. Marketplace di Indonesia saat ini masih terbilang murah dan bisa menjadi tempat untuk membangun kemampuan berjualan secara online serta meningkatkan penjualan.

Saat sudah mulai terbangun, tetap perlu bangun situs atau aplikasi e-commerce sendiri. Aplikasi ini akan menjadi platform untuk membangun konsumen yang loyal. Di luar sana, marketplace besar seperti Amazon sudah menerapkan fee cukup besar yang akan menggerus profit brand.

So, kalau rasanya brand Anda sudah butuh platform atau aplikasi e-commerce sendiri, jangan lupa kontak GITS.ID ya. :)


Ray Rizaldy adalah CEO dan Co-founder dari GITS Indonesia.